Saya seorang penulis yang menulis karena niat utamanya pengin cari duit, bukan karena pengin mencerdaskan kehidupan bangsa atau berbagi pengetahuan, saya tidak se-Depdikbud itu. Dan karena alasan itulah, saya sangat marah jika buku saya dibajak.
Begitu pula dengan kawan-kawan yang bekerja di penerbitan, mereka menerbitkan buku ya untuk mencari uang dan menghidupi keluarganya, bukan semata demi kerja-kerja ideologis kepustakaan yang agung dan adiluhung. Dan karena alasan itulah, kerja-kerja mereka harus diapresiasi dalam bentuk materi.
Bahwa ada orang-orang mulia seperti Tan Malaka yang memberikan seluruh pemikirannya dan membebaskan karya-karyanya untuk disebarluaskan, itu tentu bagus. Namun harus diingat, tidak semua penulis betah dan sanggup mengikuti laku hidup Tan Malaka.
Sebagian penulis hanya kuat menjadi “Pram” yang punya semangat membagikan ide dan pemikirannya melalui karya-karyanya sambil tetap berharap mendapatkan materi atas karyanya.
Sisanya lagi cuma sanggup menjadi penulis “berideologi rendah” seperti saya ini yang cuma mengincar penghasilan semata agar punya ongkos menjalani hidup kian makin keras dan makin berdarah dingin ini.
Maka, kalau kalian tidak bisa memahami perasaan kami yang marah terhadap pembajakan buku, cukuplah memahami perasaan kami sebagai pekerja yang sedang berusaha mencari uang dengan cara yang halal untuk membiayai hidup.
Pahami kami sebagai manusia yang akan marah ketika sumber rezeki halalnya diganggu seperti kalian memahami tukang cilok yang akan marah ketika botol saos dan kecapnya disembunyikan atau tukang becak yang akan marah ketika ban becaknya dikempesi.