Jadi Yae, Suzu, Suiren, Nao aslinya dari mutiara? Kerang? Puja kerang ajaib? ๐ญ
EPILOG.
TENTANG KORIKO: TAKKOROKAMUI
TAKKOROKAMUI SANG DEWA
Ratusan tahun silam, Takkorokamui, Sang Dewa Samudra yang diagung-agungkan, berdiam di sebuah pulau kecil di seberang pulau yang kini dikenal sebagai Pulau Koriko.
Para manusia yang merasa bersyukur kemudian membangun sebuah kuil kecil dengan kayu-kayu yang diukir apik di pulau tersebut. Dari generasi ke generasi, para nelayan menyebrangi selat untuk memberi sesembahan dan berdoa kepada dewa sebelum memulai kegiatan menangkap ikan.
Meski pulau kuil tersebut kerap dikunjungi manusia, Takkorokamui tetap hidup dalam kesendirian. Beliau mendambakan pendamping untuk menemaninya hidup. Dari empat biji mutiara dari teluk, ia menganugerahkan kemampuan untuk mengambil wujud manusia dan memiliki kesadaran seutuhnya. Dan dengan belas kasihnya, ia mengangkat mereka sebagai putri-putri lautan. Mereka berempat ditugaskan sebagai Miko, atau gadis kuil, yang menjaga kuil serta tradisi pemujaan.
Pada saat yang sama, kerakusan menusia mulai mencemari laut yang selama ini ia lindungi. Perairan dirusak, pantai-pantai dikotori, dan keseimbangan alam jelas terganggu oleh perilaku tidak terpuji tersebut. Luka itu tidak hanya dirasakan oleh sang dewa. Banyak yokai yang hidup di samudra tumbuh penuh kebencian terhadap manusia. Kemarahan meraka terus bertumbuh dan akhirnya berubah menjadi pembalasan: kapal-kapal dengan sengaja ditenggelamkan, dan para nelayan yang berlayar terlalu jauh sering kali tidak pernah kembali.
Takkorokamui menyadari bahwa jarak antara dirinya dengan dunia semakin besar. Bersemayam di kuil yang terpencil membuatnya hanya mendengar doa-doa manusia, tetapi tidak benar-benar memahami kehidupan mereka sehari-hari. Begitu pula para yokai yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap manusia walaupun hanya segelintir yang melakukan kesalahan.
Setelah menyaksikan terlalu banyak pertumpahan darah antara manusia dan yokai, Takkorokamui akhirnya mengambil keputusan yang paling berat sepanjang keberadaannya sebagai dewa. Demi mencegah kebencian itu terus memakan korban, ia menciptakan sebuah tembok pembatas yang tak kasat mata. Tembok tersebut membelah dunia menjadi dua alam yang berdampingan namun tak lagi saling bersinggungan. Di satu sisi berdiri dunia manusia, sementara di sisi lainnya terbentang dunia para yokai. Hanya tempat suci dan wilayah yang diberkati dewa yang masih memungkinkan kedua dunia saling bersentuhan. Konflik antara manusia dan yokai yang dahulu sering terjadi pun perlahan mereda, dan laut telah menemukan ketenangannya kembali.
Namun Takkorokamui tidak pernah berniat memisahkan keduanya untuk selamanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih mendambakan hari dimana manusia dan yokai dapat hidup berdampingan tanpa rasa takut maupun prasangka buruk. Karena itu, sang dewa menetapkan sebuah pengecualian. Setahun sekali, pada hari yang telah diberkati olehnya, pembatas antara kedua dunia akan menipis. Pada saat itulah manusia dan yokai dapat berkumpul dalam Festival Perikanan Koriko.