Betul. STAN tu diploma, ga banyak diajarin analis ekonomi, walauoun masuknya susah, tapai levelnya beda dengan S1. S1 dia kalo ga salah ambil ekosyar di univ muhammmadiyah yg ga mentereng juga (bukan modelan UMY dkk). S2 di SQU? Come on, SQU tu levelnya di bawah UI, UGM, ITB, tau
Agak lucu lihat ada yang baru “kaget” sekarang soal Ferry Irwandi bukan lulusan ilmu ekonomi.
Padahal ya kalau dicek, S1-nya STAN (keuangan negara/kebendaharaan), lanjut S2 di Central Queensland University, dan sekarang S3 di Monash. Jadi memang dari awal bukan “economics major” murni, tapi juga bukan orang yang jauh dari isu fiskal.
Terlepas dari itu semua, di titik ini, yang lebih penting itu bukan label jurusan. Dalam komunitas ekonomi, kita sudah terbiasa menilai dengan logika, data, dan apakah identifikasi masalahnyanya benar, bukan cuma lihat dari CV aja
Saya tahu ini, tapi ya bukan berarti kita jadi jatuh ke pola yang sama kayak debat PhD vs non-PhD ala Pak Purbaya waktu ngegas analis Citibank soal proyeksi defisit. Di situ kelihatan jelas bagaimana diskusi bisa bergeser dari diskursus intelektual ke serangan personal.
Begitu sudah masuk ke sana, saya khawatir justru kita kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, percakapan yang makin mencerdaskan dan mencerahkan.