Saya memohon maaf bila pernah share cerita tentang pasien yang tidak etis di sini.
Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa bahkan cerita yang “dianonimkan” sering kali masih bisa diidentifikasi ulang, terutama di komunitas kecil atau dengan detail unik.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa dari 754 tweet dokter dan tenaga kesehatan yang menceritakan pasien lain, 98% tidak menyebut nama sekali, tapi 32,1% bisa diidentifikasi oleh keluarga/teman, dan 46,6% kemungkinan bisa diidentifikasi oleh pasien itu sendiri.
Selain itu, 84% pasien menyatakan kepercayaan mereka menurun drastis pada dokter yang menceritakan atau menarasikan pasien dengan tidak hormat. Namun ada potensi peningkatan kepercayaan pada 35% yang membaca narasi hormat dokter pada pasiennya.
Selain itu, berbagi data pasien di media sosial memiliki risiko privasi yang ternyata signifikan, meskipun tujuan awalnya adalah edukasi.
Dampak tertinggi dapat dirasakan pada pasien rentan, seperti ODHA/HIV, kesehatan mental, atau isu seksual. Narasi negatif pada mereka bisa memperburuk stigma, ketakutan, dan menghalangi orang mencari pengobatan.
Sekali lagi saya mohon maaf bila pernah melakukan hal seperti itu.
Terima kasih.
Sumber:
-Public Disclosure on Social Media of Identifiable Patient Information by Health Professionals: Content Analysis of Twitter Data
-Risks and benefits of sharing patient information on social media: a digital dilemma
This.
Dokter Indonesia doyan banget share cerita ttg pasien di medsos, caper dan haus engagement. Biar ga sebut nama tetap ga etis. Belum lagi yg dengan bangganya bersikap prejudice, diskriminatif, dan jadi polisi moral.
WTF is wrong with you. Dididik gimana di kampus?