Mau cerita pengalaman nekat dateng pengabdian di salah satu desa pedalaman, tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani.
Nama kampung ini adalah Telaga Segoar, yang terletak di kabupaten Lombok Utara. Di sini Ayas melakukan pendampingan dari komunitas Genpi Lombok Sumbawa, kegiatan kami di daerah ini meliputi pengabdian pendidikan, kesehatan, serta pengembangan wisata.
Waktu itu Ayas izin nggak bisa dateng barengan dengan teman-teman yang lain, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu Ayas nyusul belakangan, tanpa mikir nanti kesana sama siapa ya?
Setelah sholat Maghrib, Ayas nekat berangkat sendirian. Melewati jalan raya hingga jam 9 malam, kemudian belok ke arah gang sempit yang memasuki area hutan.
Qadarullah, hujan lebat menemani perjalanan Ayas menyusuri daerah pedalaman yang sangat amat gelap. Kiri kanan seperti tidak ada kehidupan, dengan menggunakan jas hujan pink favorit, Ayas trabas jalanan berbatu dengan kecepatan minim.
Bisa bayangin nggak, manusia setinggi 148cm ini di jam 10 malam menyusuri hutan sendirian. Dan deg! Ada ular yang lumayan besar, numpang nyebrang.
Ayas stay dulu di tempat itu, sambil nungguin ular lewat. Tepat di depan motor, sambil bilang “Tabe’ nggeh, tiang nyodoq liwat deriki”
Setelah yang punya hutan sudah tidak terlihat, Ayas melanjutkan perjalanan yang akhirnya selesai di jam 23.12 WITA.
Gerimis belum usai, teman-teman yang tidur di rumah penampungan, kaget ngeliat Ayas yang baru sampai. Mereka ngira Ayas becanda, berangkat sendirian malam-malam. Yang penting Ayas selamat lah ya sampai tujuan.
Paginya, Ayas yang udah kebelet ngopi langsung nyamperin Inak di berugak, terus disuruh buat kopi sendiri. Suasana di sini dingin sekali, tapi tenang dan nyaman.