Filter
Exclude
Time range
-
Near
will o the wisp retweeted
“kami antar bapak ke paris” with that background… OH GENIUS
hey so you can use this to protest
8
2,244
13,119
109,809
Blandine Escoubes retweeted
Macron : L'affaire Epstein ne concerne pas la France. CNN : pourquoi tant de choses intéressantes nous mènent à Paris ?... 🤔
6
345
713
11,004
Paris on est là ? 🔥 Qui cherche encore des places pour Bad Bunny à La Défense Arena le 4 juillet ? J'ai 3 billets dispo. Preuves d'achat et prix négociable en DM. Venez choper vos places ! x 📥 #BadBunny #BadBunnyParis #entradas #Ticketmaster
Thierry Diez retweeted
🚨 INFO JUSTICE 🚨 Éric Zemmour RELAXÉ par le tribunal de Paris ! ⚖️ Cela ne fera les gros titres des journaux évidemment !!! atlantico.fr/article/decrypt… 📅 Date du jugement : Mardi 12 juin 2026 📍 Lieu : Tribunal correctionnel de Paris 🏛️ Affaire : Diffamation envers une enseignante 📖 DÉTAILS DE L'AFFAIRE 🔍 Contexte des propos : En 2022, Zemmour avait dénoncé un voyage scolaire prévu dans un camp de migrants à Calais 🚌 👩‍🏫 Plaignante : Une enseignante qui l'a poursuivi pour diffamation ✅ Jugement : Zemmour ET plusieurs personnalités politiques ainsi que les "Parents vigilants" ont été relaxés ! 📊 AUTRES RELAXES D'ZEMMOUR 🔹 2025 : Provocation à la haine → ✅ Relaxé le 2 juillet 🔹 2022 : Contestation de crime contre l'humanité (propos sur Pétain) → ✅ Relaxe confirmée en appel 🔹 2026 : Diffamation envers enseignante → ✅ Relaxé le 12 juin ⚡ RÉACTIONS 🎯 POUR QUOI C'EST IMPORTANT 📌 Zemmour est le président du parti de droite Reconquête! 📌 Candidat à la présidentielle de 2022 📌 Cette affaire touche au débat sur la diffamation dans l'espace public 🔁 À partager si vous voulez informer sur cette actualité justice ! 📰 Sources : Le Monde, Atlantico #Justice #Zemmour #Relaxe #Reconquete #PolitiqueFrance #Actualité #Paris #Diffamation ⚖️🇫🇷 @ZemmourEric a encore raison, désolé ! @knafo_sarah aussi @Reconquete_off le courage de la vérité ...💪
42
726
1,358
18,723
Nikita Sharma Bisht retweeted
Why do women only care about money? Why can't she earn her own money and go to Paris? Feeling bad for her husband. Now he'll be compared to that Paris guy, and she'll never respect him.
43
231
2,067
29,047
Bientôt sur vos Écrans, le film "un Idiot à Paris" le biopic de E.Macron et de B.Trogneux, retraçant la vie d'un jeune étudiant et de sa professeure jusqu'à l'Elysée #humour #Elysée #Paris #président
Replying to @DrewPavlou
His people are the wallet stealers Drew. In London, Italy, Paris, etc they ride around snatching wallets and phones.
RT @al_bonnel: Mes chers amis, C’était il y a un an. Quand l’hôpital ne voit plus les signaux faibles Juin 2025, Paris Une cicatrice qu…
371
Diiez retweeted
The black man in Paris beats up an elderly French couple. When will this end?
25
71
245
6,230
JANGAN MASUK LEWAT PINTU YANG SAMA Teman saya pernah berkata, “Kalau ingin berbisnis di Italia, kamu harus bisa bahasa Roman.” Saya tertawa. Yang ia maksud tentu bahasa Italia, salah satu bahasa rumpun Roman. Tetapi maksudnya saya paham: kalau ingin masuk ke pasar Italia, apalagi industri fashion, bahasa dan budaya adalah kunci. Masalahnya, saya disleksia. Saya tidak merasa punya bakat berbahasa asing. Kalau kemudian saya bisa bahasa Inggris dan Arab, itu karena sejak kecil ibu saya mengajarkannya dengan sabar. Bahasa China pun saya pelajari bukan dari sekolah formal, tetapi dari paman saya. Itu pun Hokkian. Mandarin saya lemah sekali. Saya hanya bisa menangkap maksud orang bicara karena terlalu lama tinggal di China dan terbiasa mendengar percakapan mereka. Namun dalam bisnis, keterbatasan tidak selalu menjadi tembok. Kadang ia hanya memaksa kita mencari pintu lain. Tahun 2006, saya sedang merintis pabrik garmen dengan model bisnis global production center untuk produk branded. Kalau ingin masuk ke bisnis itu, tentu saya harus berhubungan dengan Italia. Di sana ada nama-nama besar: Armani, Dolce & Gabbana, Gucci, Prada, Valentino, dan banyak lagi. Italia bukan hanya pasar. Italia adalah simbol. Di sana mode bukan sekadar pakaian, tetapi bahasa status, budaya, sejarah, dan selera. Saya nekat datang ke Italia. Sama seperti dulu saya nekat datang ke China. Di Milan, saya sering berada di kawasan Quadrilatero della Moda. Setiap pagi sebelum pukul sebelas, saya nongkrong di kafe untuk sarapan. Saya tahu orang Italia sangat dekat dengan kopi. Aktivitas mereka dimulai sejak pagi. Mereka berbincang di kafe, bertemu teman, membaca situasi, lalu berangkat kerja. Saya tidak masuk melalui kantor. Saya masuk melalui budaya. Tidak sampai seminggu, saya berkenalan dengan seorang wanita bernama Isabela. Ia bekerja sebagai agen modeling. Beruntung, saya punya cukup literasi tentang dunia modeling. Jadi obrolan kami nyambung. Dari percakapan ringan tentang model, panggung, kain, fotografer, hingga karakter rumah mode, saya mulai memahami ekosistem yang tidak tertulis di laporan bisnis mana pun. Lewat seminggu, hubungan kami menjadi akrab. Kebetulan saya punya Amex Centurion Black Card. Jam tangan saya Patek Philippe edisi terbatas. Setelan saya dirancang khusus oleh rumah mode Paris. Semua itu membuat saya mudah diterima di lingkungan tertentu. Dalam dunia seperti itu, penampilan adalah kartu nama pertama sebelum orang mau mendengar isi kepala Anda. Padahal dalam hati saya tertawa sendiri. Udin pedagang sempak kaki lima sedang berakting seperti kaum jet set Milan. Namun akting itu bukan untuk menipu. Itu strategi masuk ke ruang sosial yang memang bekerja dengan simbol. Kalau saya datang sebagai orang baru yang menawarkan jasa produksi murah, saya akan langsung dianggap vendor kelas dua. Tetapi kalau saya hadir sebagai orang yang memahami selera, seni, uang, dan struktur pasar, mereka mulai mendengar. Dalam satu bulan, saya mulai membaca peta industri mode Italia. Saya belajar bahwa dalam banyak perusahaan branded, keputusan tidak selalu berada di tangan CEO. CEO mengurus operasional. Yang menentukan arah besar tetap owner. Dan para owner itu tidak selalu berada di kantor. Mereka hidup di jaringan sosial: makan malam, private club, fashion show, galeri seni, villa keluarga, dan percakapan informal. Saya juga mulai memahami hal penting, yaitu kekuatan industri mode Italia tidak hanya terletak pada desain, tetapi pada budaya. Banyak pria Italia adalah family man. Mereka ingin memberikan yang terbaik kepada wanita dalam hidup mereka. Dari sanalah lahir penghormatan kepada keindahan, bentuk tubuh, kelembutan bahan, detail jahitan, dan rasa percaya diri seorang wanita ketika mengenakan pakaian. Rancangan busana wanita bukan hanya produk komersial. Ia adalah ekspresi budaya. Namun ketika produk itu dipasarkan oleh jaringan Inggris dan Amerika, ia berubah menjadi simbol eksklusivitas global. Mode Italia menjadi bahasa kelas sosial bagi kalangan the have. Di situlah saya melihat celah. Orang Italia sangat kuat dalam budaya, estetika, dan rasa. Tetapi banyak dari mereka tidak sepenuhnya memahami sisi marketing global, apalagi teknologi desain material tekstil. Mereka sering terjebak pada promosi bahan tekstil Jepang yang mahal. Padahal biaya produksinya rendah, tetapi dijual sangat mahal sebagai bahan eksklusif kepada pemegang merek branded. Saya datang bukan dengan proposal sebagai mitra produksi. Saya datang dengan provokasi intelektual. Saya berkata kepada mereka, “Produk kelas dunia tidak cukup hanya menang dalam mode. Ia juga harus menang dalam material. Kain bukan sekadar bahan. Kain adalah teknologi. Kalau desain adalah jiwa, material adalah tubuhnya.” Latar belakang saya sebagai trader pasar uang dan pasar modal membantu. Saya tidak sulit bertemu dengan owner pabrik dan pemilik merek, karena pertemuan itu diatur oleh eksekutif asset management dan money broker yang menjadi jaringan saya di London dan New York. Saya tidak pernah membuka percakapan dengan kalimat, “Saya ingin menjadi vendor Anda.” Kalimat seperti itu membuat posisi kita rendah sejak awal. Saya justru membangun percakapan tentang masa depan industry, efisiensi rantai pasok, teknologi material, konsistensi kualitas, biaya produksi, fleksibilitas volume, dan kemampuan memproduksi secara global tanpa merusak martabat brand. Butuh lebih dari satu tahun untuk membina hubungan dengan mereka. Kalau ada fashion show, mereka mengundang saya. Saya datang. Kalau ada pesta private club, saya hadir. Saya mendengar lebih banyak daripada berbicara. Saya membaca karakter orang, bukan hanya membaca kontrak. Akhirnya Armani bersedia menyerahkan pusat produksinya kepada unit bisnis garmen Yuan di China. Setelah itu Dolce & Gabbana juga masuk dalam skema global production partnership dengan Yuan. Apa yang terjadi setelah itu, saya tidak terlalu mengikuti lagi. Sejak 2013 saya tidak aktif dalam bisnis sehari-hari. Yang saya tahu, unit bisnis garmen Yuan tidak hanya berkembang di China, tetapi juga di Ho Chi Minh dan Bangladesh. Turnover tahunannya pernah mencapai sekitar USD 1,8 miliar. Kadang kalau saya mengingat awalnya, saya tertawa sendiri. Kok bisa? Kok nekat? Kok seorang udin pedagang sempak kaki lima bisa masuk ke lingkaran mode Milan? Jawabannya sederhana: saya tidak masuk sebagai pendatang baru yang meminta tempat. Saya masuk dengan membaca kelemahan mereka. Dalam bisnis, jangan menjadi newcomer yang masuk ke medan yang sudah lebih dulu dikuasai orang lain. Kalau Anda masuk dengan cara yang sama, Anda hanya akan menjadi pemain kecil yang dipaksa mengikuti aturan lama. Ciptakan peluang dengan riset. Pahami budaya industrinya. Baca siapa pengambil keputusan sebenarnya. Temukan kelemahan yang tidak mereka sadari. Lalu bangun nilai dari kelemahan itu. Jangan menindas. Jangan merampas. Jangan mengalahkan orang dengan cara kasar. Menanglah dengan menawarkan sesuatu yang membuat mereka lebih kuat. Itulah bisnis yang bermartabat. Karena kemenangan terbaik bukan ketika orang lain jatuh di bawah kaki kita, tetapi ketika mereka membutuhkan kita untuk naik lebih tinggi. Isabela jadi direktur Unit business Garment Yuan Holdng, degnan Ayin sebagai CEO. Kedua mereka sampai sekarang entah mengapa tidak menikah..
1
kneelahjay retweeted
These are the guys who liberated Paris.
These men were the Senegalese Tirailleurs—African soldiers recruited from across France's West African colonies, including present-day Senegal, Mali, Guinea, Burkina Faso, and Niger. When Nazi Germany invaded France in 1940, they fought and died defending a country that was not their own. Thousands served on the front lines, facing the same artillery, machine guns, and tanks as their white comrades. Many were captured by the Nazis and endured years of imprisonment under brutal conditions. But for many survivors, the greatest betrayal came not from Germany, but from the very nation they had fought to defend — France ! After the war, African veterans returned expecting the pay, pensions, and respect promised to them for their service. Instead, they encountered discrimination, delayed wages, and unequal treatment. On 1 December 1944, a group of demobilized Tirailleurs at the Thiaroye military camp near Dakar protested over unpaid salaries and benefits. French colonial forces opened fire on them, killing 500 veterans. Historians are convinced that the true death toll was likely much higher than this. They fought for France against fascism, survived Nazi captivity, and came home only to be met with bullets from the French colonial state. It did not end there. In 1945, 34 of the Senegalese veterans, who were thought to be the instigators of the protest, were tried and given sentences of upto ten years. They were later pardoned as French President Vincent Auriol visited Senegal in March 1947, but they were not exonerated, and their widows were never awarded the veteran pensions usually granted to widows of fallen soldiers. The Thiaroye massacre is not taught in schools in France, and a Senegalese film about the massacre released in 1988, Camp de Thiaroye, was both banned in France and censored in Senegal.
11
813
4,284
59,692
Jolio retweeted
Après Paris, Nice est aujourd’hui la ville française la plus connue et la plus attractive à l’international. L’accueil de Bharat Innovates 2026 et de plus de 120 start-up technologiques indiennes confirme la vocation de notre ville à devenir l’un des grands carrefours européens de l’innovation, de la recherche et du développement économique.
12
30
175
7,711
VP 🇮🇳 retweeted
Landed in Nice. In addition to Nice, this France visit includes programmes in Evian and Paris. There will be bilateral and multilateral engagements, which will be aimed at improving India’s friendships with key developmental partners. I look forward to meeting President Macron tomorrow and to being at ‘Bharat Innovates.’ @EmmanuelMacron @BharatInnov2026
1,264
2,721
21,178
1,329,331
Braganti Jean-Louis retweeted
🚨 Affaire Lyhanna : Anne Hidalgo et Emmanuel Grégoire ont recruté, protégé et couvert les pédophiles du périscolaire parisien. Alertes enterrées, enfants brisés, justice absente. Quand seront-ils jugés ?
125
1,430
2,592
14,322
Hristina Nicolas retweeted
📸 Roy Rainford. Melina Mercouri et la Vénus de Milo, musée du Louvre 1962. Paris
4
51
200
3,399
he did cinema in paris for me thanks you I manifest it so bad 😛😛
5
gaitana retweeted
Scène dans le métro à Paris Le monsieur en maillot était en train de mendier, demander de l'argent aux gens, un ivoirien s'est approché de lui pour lui demander gentillement de retirer le maillot et de le pas salir le nom de la côte d'Ivoire.
264
342
3,175
470,004