Salah satu kesalahan paling umum dalam membaca data makro: terpaku pada angka absolutnya.
• "Inflasi naik ke 4%."
• "BI hike 25 bps."
• "GDP tumbuh 5%."
Refleksnya langsung menilai bagus/jelek dari angka itu.
Padahal pasar bereaksi terhadap "Surprise Factor".
"Surprise Factor" adalah selisih antara REALISASI dan KONSENSUS.
Harga itu sudah mendiskon faktor2 yang forward-looking.
Sebelum sebuah data rilis, konsensus tentang data tersebut sudah priced in di harga.
Market sudah antisipasi data makro yang belum keluar based on konsensus.
Ketika datanya riilnya keluar, satu2 informasi baru adalah selisihnya terhadap ekspektasi, dan itulah yang menggerakkan harga, bukan angkanya sendiri.
Kalau inflasi keluar di 4% dan konsensus memang 4%, market price most likely tidak akan kemana2.
4% itu sudah priced in.
Yang menggerakkan pasar adalah kalau yang keluar ternyata 4,5% (di atas dugaan) atau 3,5% (di bawah).
Implikasinya adalah, angka "bagus" bisa menurunkan pasar kalau di bawah ekspektasi, dan angka "jelek" bisa menaikkan kalau lebih baik dari yang ditakutkan.
Di portfolio management, ini masuknya ke Macroeconomic Factor Model. (terlampir di gambar)
Di pasar global ada indeksnya: Citi Economic Surprise Index (Citigroup), yang mengukur data aktual vs konsensus.
Jadi kalau ada rilis data atau keputusan bank sentral, pertanyaan pertamanya bukan "angkanya berapa", tapi "angkanya berapa dibanding yang diperkirakan."
Yang sesuai ekspektasi, sekencang apa pun headlinenya, sebagian besar sudah priced in di harga.