Keep writing and thinking

Joined July 2021
21 Photos and videos
kuracintakasih retweeted
Guys, ada satu cerita yang menurut gue paling menggambarkan ironi proyek infrastruktur Indonesia. Bukan teori di atas kertas tapi cerita nyata seorang menteri yang sudah menolak proyek ini sejak awal, dengan alasan yang jelas dan sangat masuk akal, tapi tetap dipaksa jalan. Dan sekarang sembilan tahun kemudian semua yang dia khawatirkan terbukti benar. Ignasius Jonan, eks Menteri Perhubungan, sudah menolak proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sejak 2015. 21 Januari 2015, dalam rapat bersama DPR, Jonan bicara dengan sangat tegas: jangan ada pembangunan kereta cepat di Jawa, walaupun menggunakan pinjaman luar negeri. Alasannya logis. Proyek itu akan membebani anggaran negara, sementara banyak daerah lain di Indonesia bahkan belum pernah punya akses kereta sama sekali. Dia bilang sendiri waktu itu: banyak di daerah yang lihat kereta saja tidak pernah. Jonan justru mendorong agar fokus pembangunan kereta diarahkan ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua daerah yang benar-benar membutuhkan akses transportasi dasar, bukan Jakarta-Bandung yang sudah punya banyak pilihan moda transportasi lain. September 2015, Jonan kembali menegaskan posisinya. Dia bilang kereta cepat Jakarta-Bandung itu tidak begitu diperlukan karena jaraknya cuma 142,3 kilometer. Terlalu pendek untuk kereta dengan kecepatan di atas 300 km per jam. Secara teknis ini sangat masuk akal. Kereta secepat itu butuh jarak panjang untuk benar-benar mencapai kecepatan maksimalnya. Kalau jaraknya terlalu pendek, keretanya baru sempat akselerasi, sudah harus mulai perlambatan lagi untuk berhenti. Manfaat kecepatan tingginya jadi tidak optimal. Ini investasi besar untuk manfaat yang tidak maksimal di rute sependek itu. Tapi proyek ini tetap dipaksa jalan. Dan inilah bagian yang paling menyakitkan dari cerita ini. 12 Januari 2016, Jonan akhirnya menandatangani izin trase kereta cepat. Tapi dia bahkan tidak hadir di acara peletakan batu pertama proyek ini. Ketidakhadirannya di seremoni besar itu sulit untuk tidak dibaca sebagai sinyal. Seorang menteri yang sudah menolak proyek ini sejak awal, dipaksa menandatangani izinnya, tapi tidak mau ikut merayakan peresmiannya. Bahkan ketika akhirnya melunak, Jonan tetap memasang batasan yang ketat. Tahun 2016 dia meminta masa konsesi maksimal 50 tahun, dan setelah itu kereta cepat harus diserahkan kembali ke negara dalam kondisi bebas dari utang dan layak operasi. Itu batas yang dia perjuangkan supaya negara tidak terus-terusan menanggung beban proyek ini selamanya. Sekarang bandingkan dengan kenyataan yang terjadi. Konsesi yang disepakati sekarang bukan 50 tahun seperti yang diperjuangkan Jonan. Tapi 80 tahun. Tiga puluh tahun lebih panjang dari batas yang dia tetapkan. Pembengkakan biaya proyek ini mencapai 1,2 miliar dolar Amerika Serikat. Dan sampai pertengahan 2026, Menteri Keuangan sendiri mengungkap bahwa penyelesaian utang proyek kereta cepat ini bahkan belum dibahas tuntas dengan istana. Semua kekhawatiran yang disampaikan Jonan sejak 2015 soal beban anggaran, soal rute yang terlalu pendek, soal risiko utang jangka panjang semuanya terbukti benar. Bukan dalam hitungan bulan, tapi dalam hitungan tahun yang konsisten. Dan ini yang paling ironis dari semua cerita ini: orang yang paling teliti, paling berhati-hati, dan paling berani menolak proyek berisiko tinggi terhadap keuangan negara, justru bukan orang yang akhirnya dipuji karena kehati-hatiannya. Track record Jonan sendiri sudah terbukti di KAI. Di bawah kepemimpinannya, KAI berubah dari kondisi merugi Rp83 miliar di tahun 2009 menjadi perusahaan yang untung. Dia juga yang menertibkan puluhan ribu kepala keluarga yang menempati jalur ganda lintas utara tanpa keributan berarti, dengan solusi konkret seperti membuka kesempatan kerja di KAI untuk anggota keluarga yang terdampak. Orang dengan track record manajemen sebaik itu, yang juga sudah benar dalam memprediksi risiko proyek kereta cepat sejak awal, pada akhirnya tetap mengalami pergeseran posisi dalam karir politiknya. Setelah periode itu, Jonan tidak lagi dipertahankan di posisi strategis yang sama seperti sebelumnya. kisah Jonan dan kereta cepat ini adalah pelajaran pahit tentang bagaimana keputusan besar negara seringkali tidak ditentukan oleh siapa yang paling benar secara teknis dan paling berhati-hati soal keuangan negara, tapi oleh siapa yang punya kekuatan politik untuk memaksakan agenda. Jonan benar soal jaraknya yang terlalu pendek. Benar soal beban anggaran yang akan membengkak. Benar soal pentingnya batasan konsesi yang ketat supaya negara tidak terus menanggung beban. Dan sekarang, sembilan tahun kemudian, semua yang dia khawatirkan itu menjadi kenyataan yang harus ditanggung rakyat lewat APBN. Pelajaran yang seharusnya diambil: ketika seorang ahli di bidangnya dengan tegas dan berulang kali memperingatkan risiko sebuah proyek besar, itu bukan sikap pesimis atau anti-pembangunan. Itu adalah kehati-hatian yang seharusnya didengar, bukan dilangkahi demi kepentingan yang lebih besar dari sekadar efisiensi dan kepentingan rakyat.
19
57
136
43,351
kuracintakasih retweeted
Ini mungkin manuver catur paling epik setelah 2019 buat Jokowi Ketimbang membiarkan lawan menggalang kekuatan selama 5 tahun, strategi yang dipakai adalah merekrut musuh terbesar nya ke dalam kabinet. Dengan masuknya Prabowo ke kubu Jokowi pasca 2019, oposisi otomatis gembos. Ini yang bikin tingkat kepuasan publik Jokowi stabil di angka yang tinggi bahkan sempat di atas 80% menjelang 2024. Approval rating raksasa inilah yang jadi modal utama buat mengamankan jalan Gibran.
Biar kelen ga menyepelekan keluarga Jokowi. Dan juga pergerakan gibran sebagai Wapres Prabowo. Gue akan spill record kemenangan Jokowi dari tahun 2005 2005 => nyalon walikota solo (menang) 2010=> nyalon dua periode solo (memang 90% suara) 2012-=> nyalon gubernur DKI (menang) 2014=> nyalon presiden (menang) 2019=> nyalon presiden lagi (menang lagi) 2024=> memenangkan anaknya Artinya apa? Jokowi tidak pernah kalah dan belum ada catatan kalah saat pemilu langsung. Dan sejak tahun 2012, konsultan politiknya masih sama sampai ke Gibran. Jadi jangan pernah membiarkan Gibran mendapatkan panggung.
20
51
322
43,091
kuracintakasih retweeted
Berkat kereta sejuta umat ini, di tengah jam rawan macet, bisa tepat waktu buat sebuah meeting penting. Teringat lagi kata-kata Presiden Kolombia, Gustavo Petro: "A developed country is not a place where the poor have cars. It's where the rich use public transportation."
16
59
151
28,968
kuracintakasih retweeted
patut diakui, editor Bloomberg KEREN banget ngett ngett !!!!! visualisasi perbandingan GDP beberapa negara di S.E.A tahun 2025 pake motif kain batik gini ada juga visualisasi Pelemahan Nilai Rupiah juga pake pewayangan gini; ini kreatif banget. Bloomberg tahu bagaimana bercerita tapi pendengar/audiensnya adalah masyarakat Global dengan identitas Universal. Bahkan ketika berbicara tentang PILIHAN TAK SEHAT, dia menganalogikan ini semua dengan GORENGAN yang terlihat nikmat namun sesungguhnya unhealthy. 🙂
69
4,385
14,700
239,538
kuracintakasih retweeted
Lu harus hati-hati dengan Kanda Bahlil Lahadalia Beliau bukan politikus biasa yang lahir dari keluarga ningrat. Ia benar-benar merangkak dari nol. Ayahnya kuli bangunan, ibunya tukang cuci. Sempat, jadi supir angkot Tapi hari ini dia pegang dua kursi kekuasaan sekaligus: Ketua Umum Partai Golkar dan Menteri ESDM Orgnya sangat LIHAI melihat situasi. Pandai baca arah angin kekuasaan. Sebab bahlil selalu di sisi yang MENANG, selalu naik satu tangga lebih TINGGI. Sebut saja jabatannya yang dahulu: 1. Direktur Penggalangan Pemilih Muda di tim Jokowi-Ma'ruf 2. Menteri Investasi pertama Indonesia 3. Wakil Ketua Tim Kampanye Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 Dan jangan lupakan satu fakta penting: Bahlil adalah kader HMI, organisasi mahasiswa yang selama puluhan tahun terbukti menjadi kawah candradimuka para pemimpin nasional, dari situ ia merawat LOYALITAS. **** Kanda bahlil sering disebutkan namanya, terlebih hadirnya lagu 0 lagu parodi viral "MBG" atau "Mas Bahlil Ganteng". Akibatnya: 1. Nama bahlil teringat di benak org 2. Menguasai ruang publik tanpa harus kampanye. Jadi, jangan kaget 2029, Bahlil jadi salah satu kandidat cawapres nanti... @Asura0599 #bahlil #prabowo #indonesia
Rezim yang kuat selalu butuh yang namanya fixer atau operator lapangan murni. Di era Soeharto, posisi ini dipegang oleh para cukong dan operator militer yang tugasnya membereskan pekerjaan kotor tanpa banyak tanya soal moral. Bahlil adalah versi mutan atau evolusi dari fixer pas era Orba. Bedanya, di era pasca-Reformasi yang katanya demokratis ini, seorang fixer nggak bisa cuma jadi pengusaha di belakang layar. Dia harus punya jabatan publik yang pegang stempel regulasi yang saat ini Menteri Investasi/ESDM. Bahlil memonopoli tiga instrumen sekaligus yaitu jaringan modal (eks-HIPMI), regulasi perizinan negara (Kementerian), dan mesin politik (Partai). Di era Soeharto aja, tiga kekuatan ini dipegang oleh orang yang berbeda-beda agar penguasa tetap jadi dalang utama. Bahlil ini beda sih wkwk
2
3
10
2,187
kuracintakasih retweeted
Tempo makin blak2an dan ngoko ala Jawa Timuran. Seringkali ada godaan melihat kondisi/respon negatif sbg masalah komunikasi dan/atau personal yg akan membaik dgn reshuffle. Tp sering juga masalahnya adalah arah/detil kebijakan. Seperti ditulis sastrawan legend William Shakespeare di lakon Julius Ceasar lebih dari 4 abad lalu: "The fault, dear Brutus, is not in our stars, but in ourselves..."
23
193
587
76,038
kuracintakasih retweeted
Rezim yang kuat selalu butuh yang namanya fixer atau operator lapangan murni. Di era Soeharto, posisi ini dipegang oleh para cukong dan operator militer yang tugasnya membereskan pekerjaan kotor tanpa banyak tanya soal moral. Bahlil adalah versi mutan atau evolusi dari fixer pas era Orba. Bedanya, di era pasca-Reformasi yang katanya demokratis ini, seorang fixer nggak bisa cuma jadi pengusaha di belakang layar. Dia harus punya jabatan publik yang pegang stempel regulasi yang saat ini Menteri Investasi/ESDM. Bahlil memonopoli tiga instrumen sekaligus yaitu jaringan modal (eks-HIPMI), regulasi perizinan negara (Kementerian), dan mesin politik (Partai). Di era Soeharto aja, tiga kekuatan ini dipegang oleh orang yang berbeda-beda agar penguasa tetap jadi dalang utama. Bahlil ini beda sih wkwk
Guys, ada satu profil yang menurut gue paling jujur sekaligus paling menyeramkan tentang bagaimana politik Indonesia sebenarnya bekerja. Bukan tentang kebijakan. Bukan tentang ideologi. Tapi tentang satu hal yang jauh lebih sederhana: survival. Bahlil Lahadalia dari sopir angkot jadi salah satu orang paling berkuasa di lingkaran istana. Dan caranya sampai ke sana adalah pelajaran paling telak tentang bagaimana sistem politik kita sebenarnya bekerja. Satu — titik awal yang membentuk segalanya: Bahlil bukan anak elite. Bukan lulusan kampus top dengan koneksi keluarga. Dia mulai dari jadi sopir angkutan umum di usia remaja. Tapi pengalaman itu bukan sekadar cerita masa lalu untuk bahan kampanye. Itu adalah pelatihan nyata. Di jalanan dia belajar membaca karakter orang dalam hitungan detik. Belajar negosiasi yang tidak diajarkan di kampus manapun. Belajar bagaimana konflik horizontal bekerja dan bagaimana cara keluar dari situasi sulit dengan cepat. Mentalitas itu tidak pernah dia tinggalkan. Dia bawa terus dan berubah jadi senjata pragmatisme yang sangat efektif. Dua — cara dia melihat politik berbeda dari politisi kebanyakan: Sementara politisi lain terutama yang berlatar akademis sibuk dengan teori, retorika, dan perdebatan ideologis Bahlil melihat politik dengan kacamata yang sangat sederhana: Siapa dapat apa. Bagaimana caranya. Dan seberapa besar daya tawar yang dimiliki untuk mengunci kesepakatan. Itu saja. Tidak lebih rumit dari itu. Dan justru kesederhanaan cara berpikir ini yang membuatnya sangat efektif di dunia yang penuh kepentingan. Tiga — gerbang emas bernama HIPMI: Bahlil masuk ke Himpunan Pengusaha Muda Indonesia tempat berkumpulnya anak-anak elite dan pemilik modal besar. Di lingkungan yang penuh dengan orang-orang yang lahir dengan privilege Bahlil tidak memposisikan diri sebagai pesaing. Dia memposisikan diri sebagai penjembatan kepentingan. Dan ketika dia berhasil jadi ketua umum HIPMI radar istana langsung tertarik. Karena di kalkulasi politik pemimpin organisasi pengusaha muda bukan cuma simbol bisnis. Itu adalah mesin logistik dan jaringan taktis yang sangat berharga menjelang pemilu. Empat — keputusan krusial yang membuka pintu istana: Ketika momentum politik nasional memanas Bahlil melebur seluruh jaringan dan pengaruhnya ke dalam tim pemenangan kandidat presiden. Bukan dengan bicara teori makroekonomi. Tapi menawarkan diri sebagai eksekutor lapangan yang agresif yang bisa langsung berkomunikasi dengan bahasa lugas ke para pemilik modal besar. Dan oligarki memang selalu butuh sosok pengikat yang dipercaya untuk mengamankan kesepakatan di bawah tanah. Bahlil berhasil menggalang dukungan finansial dan opini dari sektor usaha. Dan itu menjadi tiket emasnya masuk ke istana. Lima — posisi yang diberikan bukan kebetulan: Ketika dia resmi jadi pejabat dia tidak ditempatkan di posisi menteri biasa. Dia langsung ditaruh di episentrum perputaran uang dan regulasi paling krusial: investasi, lalu energi dan sumber daya mineral. Ini bukan kebetulan. Ini adalah penegasan bahwa penguasa tidak butuh birokrat kaku. Penguasa butuh eksekutor yang berani ambil keputusan cepat di zona penuh benturan kepentingan. Dan gaya bahasa Bahlil yang blak-blakan, jauh dari kesan elitis justru jadi senjata utama. Karena pengusaha besar merasa nyaman: dia bicara dengan bahasa yang sama dengan mereka. Bahasa keuntungan. Bahasa kepastian hukum. Bahasa kecepatan eksekusi. Dari hilirisasi komoditas sampai izin tambang triliunan rupiah Bahlil bergerak seperti jenderal lapangan yang tidak takut ambil kebijakan kontroversial demi mengamankan agenda besar penguasa tertinggi. Enam — dan ini yang paling mengejutkan: dia bukan cuma bertahan, dia jadi makin kuat: Ketika badai politik berhembus dan faksi-faksi besar mulai saling sikut pasca pemilu banyak menteri lain cemas dengan nasib jabatannya. Bahlil? Dia melakukan manuver bawah tanah. Bergeser dari satu episentrum kekuatan ke episentrum kekuatan berikutnya tanpa menimbulkan riak konflik berarti. Dia meyakinkan rezim baru bahwa dirinya adalah aset lapangan yang terlalu berharga untuk dibuang. Dan lebih dari itu dia bahkan berhasil masuk ke struktur internal partai politik raksasa dan mengambil alih kendali mengamankan kendaraan politik sah untuk memperbesar daya tawarnya di masa depan. Tujuh — pelajaran yang paling mengerikan dari semua ini: Bahlil bukan anomali. Bukan kecelakaan sejarah. Dia adalah produk murni dari sistem yang kita ciptakan sendiri. Sistem yang lebih menghargai kecepatan eksekusi lapangan dan jaminan logistik dibanding integritas, idealisme, atau konsistensi ideologis. Di sistem seperti ini moralitas yang kaku jadi beban. Kelincahan beradaptasi adalah mata uang paling berharga. Kesetiaan politik bukan prinsip tapi komoditas yang bisa dinegosiasikan kapan saja demi tiket keberlanjutan di puncak kekuasaan. Kisah Bahlil bukan cuma tentang satu orang. Ini cermin tentang bagaimana sistem politik Indonesia sebenarnya bekerja di balik semua retorika kebangsaan yang kita dengar di televisi. Ada ruang-ruang gelap transaksi yang menuntut kecerdasan taktis tinggi untuk bertahan hidup tanpa pernah tereliminasi. Dan orang yang paling berhasil di ruang itu bukan yang paling jujur atau paling kompeten di bidangnya tapi yang paling adaptif membaca arah angin kekuasaan. Dan inilah pertanyaan yang tersisa untuk kita semua yang hanya jadi penonton di luar ring: apakah pragmatisme tanpa batas seperti ini adalah seni bertahan hidup yang harus dimaklumi? Atau ini adalah harga mahal yang dibayar oleh robohnya nilai-nilai idealisme sebuah bangsa? Atau jangan-jangan di dalam ruang sedingin matematika kekuasaan idealisme itu sendiri memang hanya kemewahan yang tidak pernah nyata.
25
100
527
50,833
RT @sejak2006: ada yg kenal dengan wajah ini? kenalin, bu hendri saparini. ekonom ugm yang melanjutkan ke tsukuba. jika ditanya soal MBG,…
989
RT @sejak2006: Menteri Pertahanan memang sudah seharusnya dari sipil, bukan militer. Koizumi, lahir 14 April 1981 di Prefektur Kanagawa (Y…
56
kuracintakasih retweeted
Defense Minister Koizumi's day trip to Indonesia: •10:40: leave Japan •17:32: arrive in Indonesia •20:18-23:06: meetings/dinner at the President's house •24:25-24:50: talk w/ Defense Minister at airport until 5 minutes before boarding •26:04 - sleep x.com/ModJapan_jp/status/206…

Japanese Defense Minister Koizumi gave the President of Indonesia a scale model of the Imperial Japanese Navy Battleship Mikasa, the flagship in Japan's victory over Russia at the 1905 Battle of Tsushima. The Misaka survives today as a museum in Koizumi's election district.
35
195
1,327
356,905
kuracintakasih retweeted
pembimbing skripsi saya, Prof. Eddy OS Hiariej, banyak disinggung, dalam podcast Bocor Alus Politik (@BocorAlusPol) hari ini, yang membahas UU Polri. ada pertanyaan, apakah UU Polri adalah hadiah bagi Kapolri, karena usia pensiunnya bertambah? begini penjelasan Tempo: “Prof, ini pasal atau undang-undangnya khusus ya hadiah untuk Kapolri gitu? Dia (Prof. Eddy) bilang enggak. Jadi, Eddy Hiariej pernah berdiskusi dengan Kapolri ya. Kapolri menitipkan pesan, Prof, atau apa namanya, Pak Wamen, jangan sampai revisi ini untuk mengesankan “untuk saya”, begitu ya. Nah karena itu ada pasal peralihan soal usia pensiun ini. Jadi kalau misalkan perwira Polri itu yang berusia 56 tahun ketika undang-undang ini berlaku, dia akan kena usia pensiun 60 tahun. kalau 57 tahun, dia akan pensiun di 59 tahun. Ini seperti Jenderal Listyo. Dia akan pensiun 59. Nah kalau 58 tahun dia bisa saja ke 60 tahun, asalkan mendapatkan persetujuan dari presiden. Jadi ini secara berjenjang ya dan tidak berlaku untuk semuanya pensiun semua di 60.” *** politik hukum usia sering jadi masalah. karena bila tidak ada scientific reason nya, penentuan usia bisa sangat subjektif, atau bahkan pragmatis. 🫡
Bahas UU Polri dulu bareng tokoh2 nasional yang kebetulan ruangannya satu lantai dengan hamba rakyat jelata
13
61
337
69,125
kuracintakasih retweeted
Around 1985, General Benny Moerdani embarked on a major effort to redesign Kopassandha, which later evolved into what we know today as Kopassus At the time, Benny preferred to model Kopassandha more closely on the British SAS rather than the US Special Forces [1/3]
In honor of National History Day, what’s your favorite historical fact?
6
128
1,052
72,353
kuracintakasih retweeted
28 Dec 2025
Replying to @BLBbaru
Ini pendapat umum kepemimpinan ABRI saat itu di bawah Benny Moerdani. Suharto tidak setuju, Benny dicopot, Debennysasi dilancarkan, dan rezim Cendana mulai berusaha mencari dukungan golongan Islam untuk mengamankan kekuasaannya
3
1
15
802
kuracintakasih retweeted
Jan 2
Indonesia tidak butuh LKY untuk maju. Orang biasa seperti SBY cukup. Yang penting membangun institusi. Jeleknya Suharto adalah bahwa ia menganggap dirinya raja. Ia menentang institusi. ABRI dianggap milik keluarga. Benny Moerdani dianggap anjing peliharaan. Ketika Benny protes, Debennysasi dilancarkan, gelombang Islam dibajak untuk kepentingan pribadi keluarga Cendana. Ini berkebalikan total dengan Hamengkubuwana IX, yang adalah raja betulan. HB IX malah membangun institusi dan lembaga yang matang. Institusi-instusi ini bukan milik HB IX pribadi, melainkan profesional, bisa regenerasi, dan bisa terus berjalan mandiri lama setelah beliau meninggal. Dalam sistem kerajaan primitif yang dibangun Soeharto dan ditentang HB IX, segala-galanya adalah milik pribadi seperti barang di rumah. ABRI, CSIS, Golkar, departemen-departemen pemerintah, ICMI, kyai NU, cendekiawan Islam modernis seharusnya tunduk secara pribadi pada Suharto dan anak-anaknya karena beliau adalah raja yang dipilih Allah, bukan karena jabatan konstitusional Suharto sebagai presiden ataupun cita-cita pembangunan. Ketika institusi-institusi pemerintah Indonesia yang dibangun di awal Orde Baru semakin matang dan siap meneruskan pemerintahan, Suharto malah merasa terancam. Ia menolak mundur setelah periode 25 tahun yang dicanangkan Angkatan 66 berakhir. Pemerintahan malah ia isi dengan goon, seperti jenderal-jenderal yang kemudian memfasilitasi korupsi pengadaan tank Scorpion oleh anaknya, Tutut Soeharto. Liberalisasi ekonomi akhir 1980an bukan menjadi ajang kompetisi pasar bebas, melainkan alat bagi oligarki-oligarki peliharaan keluarga Cendana untuk merampok negara dan malah memberangus kompetisi. Ekonomi Indonesia menjadi sangat liar dan rapuh. Ketika krismon 1997 menghantam, Indonesia sudah berubah menjadi monarki dinasti preman personalistik. Penunjukan Tutut Soeharto dan Bob Hasan sebagai menteri di Kabinet Pembangunan VII menunjukkan ke pasar bahwa Suharto yang sudah stroke dan pikun malah asal-asalan dalam mengelola krisis ekonomi. Kepercayaan pasar pun jatuh. Indonesia runtuh. Konflik-konflik etnis meledak.
Replying to @zhil_arf
He should've been this countrys Lee Kuan Yew
66
748
3,529
254,571
kuracintakasih retweeted
Jan 15
Orde Baru ada berbagai faksi: 1. Faksi teknokrat 2. Faksi CSIS dan "Pater Beek" 3. Faksi ABRI geng Benny Moerdani 4. Faksi oligarki Tionghoa 5. Faksi "ABRI hijau" 6. Faksi ICMI 7. Faksi keluarga Cendana (paling rusak) Dari semua faksi ini, mana yang hari ini paling berkuasa?
Jan 11
Rezim Soekarno sangat korup. Korupsi gila-gilaan. Pemalakan gila-gilaan. Perampokan gila-gilaan. Perusahaan hasil nasionalisasi dirampok. Hasil panen dirampok. Kas dirampok. Truk dan alat kebun dikilo dan dirampok. Angkatan 66 mencita-citakan Orde Baru yang anti-korupsi. Ini terdengar sangat lucu hari ini. "Orde Baru anti-korupsi". Yang harus kita pahami, saat itu banyak orang tidak paham Soeharto itu siapa. Setelah G30S, tiba-tiba aja ada jenderal random yang muncul. Apparently sekarang dia yang berkuasa, somehow. Ketika demo anti-Sukarno semakin meluas, arsitek-arsitek Orde Baru berharap bahwa jenderal random baru ini akan mau memimpin Indonesia keluar dari miskelola, korupsi, konflik tanah, polarisasi massa, kemiskinan, dan kelaparan Orde Lama yang mengerikan dan membawa Indonesia menuju zaman modern. Letjen Soeharto, mendengar mimpi-mimpi ini, tentu diam saja. Ia tidak berusaha mengoreksi idealisme Angkatan 66 ini dengan berkata "Wah maaf, sebenarnya sayalah koruptor zaman Orde Lama itu. Dulu saya gemar merampok kayu bulat di Jawa Tengah bersama Sudono Salim dan saya akan melakukannya lagi." Saat itu tidak ada yang bisa membayangkan 32 tahun ke depan, Indonesia akan menjadi seperti apa. Yang diketahui Angkatan 66 seperti Soe Hok Gie hanyalah bahwa Orde Lama jelas gagal, kegilaan dan konflik politik harus distop, kelaparan massal harus distop, hiperinflasi harus distop, isolasi dunia harus distop, ahli harus diberikan kekuasaan untuk menyelamatkan negara. Udah bagus ada jenderal baru random ini yang ternyata berhasil menentang dan mengepung Sukarno dengan efektif. Gas dukung. Setidaknya, pada awal-awal Orde Baru, para pembaharu teknokratis benar-benar diberikan kekuasaan. Indonesia berhasil pulih dari kebencian akar rumput, kegilaan, kemiskinan, dan kelaparan Demokrasi Terpimpin. Vibe pembaruan, modernisasi, teknokrasi ilmiah, dan agenda pembangunan Orde Baru ini terus berjalan cukup lama sampai Peristiwa Malari 1974. Setelah itu, Raja Jawa melepas topeng dan impunitas merajalela. - Tahun 1975, invasi Timor Timur dilancarkan. Sepertiga populasi Timor Timur mati dibantai atau karena kelaparan, diare, disentri, dll karena societal collapse seperti di Gaza hari ini. Sistem pertanian Timor Timur dimusnahkan dengan senjata biologis. Salah satu contoh pembunuhan massal paling brutal dan mengerikan di Timor Timur adalah pembantaian di Kraras, yang pelakunya tidak pernah diusut. - Tahun 1978, HB IX meninggalkan pemerintahan, asas tunggal Pancasila diterapkan, dan pasukan tentara masuk kampus ITB. ITB yang menjadi salah satu sumber pemikir Angkatan 66 kini duduki tentara. - Tahun 1980, Soeharto berlagak seperti bos geng preman jalanan dengan mengancam bahwa anggota DPR/MPR yang berani menentangnya akan diculik dan dibunuh tentara. Peristiwa mengerikan ini dicatat sejarah sebagai "Pidato Pekanbaru 27 Maret 1980" dan "Pidato Cijantung 16 April 1980". Atau sebagaimana dicatat oleh terminologi modern, "Soeharto Crash Out". Monolog bos supervillain kartun yang mengancam-ngancam penculikan dan pembunuhan ini dikeluarkan Soeharto di markas-markas ABRI di depan para komandan. Monolog ini mengundang keprihatinan tokoh-tokoh negarawan senior yang lalu menandatangani Petisi 50, seperti Nasution, Sjafruddin Prawiranegara, Natsir, Hoegeng, dan Ali Sadikin. Mereka lalu direpresi habis-habisan. - Tahun 1983, konsolidasi preman se-Indonesia dimulai lewat Petrus. Semua preman yang tidak mau masuk ke dalam struktur mafia raksasa yang diketuai Soeharto dibantai di jalanan. Soeharto menjadi Raja Preman seperti Don Corleone dalam film "The Godfather". - Tahun 1984, golongan-golongan Islam dibantai di Tanjung Priok. - Tahun 1987, monopoli cengkeh di bawah BPPC milik Tommy Soeharto mulai dibentuk. Anak-anak Cendana sudah besar dan siap merampok habis seluruh negara Indonesia. --- Soekarno melakukan pembiaran korupsi. Soeharto adalah orang yang melakukan korupsinya. Dalam hal ini, kita tak banyak berubah.
55
198
1,172
63,452
kuracintakasih retweeted
Unjuk rasa adalah bagian dari demokrasi kita yang dijamin oleh UUD 1945. Unjuk rasa adalah hak konstitusional setiap warga negara.
2,788
20,792
20,576
kuracintakasih retweeted
Jaman Jokowi dulu, ada mastermind namanya Pratikno, ada eksekutor namanya LBP. Dua ini jalan tandem, dan pemimpinnya sendiri mau nerima masukan dan bisa berdiskusi bebas Jaman sekarang Wowo ga punya mastermind, ga juga punya eksekutor ulung. Adanya cuma pesuruh yang main aman
44
566
3,687
133,014
kuracintakasih retweeted
ini adalah dokumentasi saat peristiwa aksi masa 212, tahun 2016 apa yang menarik? subliminal message. peci putih menandakan berada dimana hatinya berlabuh,
12
21
351
66,563
kuracintakasih retweeted
Widih.. Mrinding lihatnya 🫣
27
82
388
84,690
kuracintakasih retweeted
Sejak awal kemerdekaan RI hingga era Bung Karno, barangkali corak ideologi ekonomi politik Presiden Prabowo adalah yang paling eksplisit dan dekat dengan diskusi di Sidang BPUPKI. Berikut sekelumit kutipan risalah: "Pada dasarnya, perusahaan yang besar-besar yang menguasai hidup orang banyak, tempat beribu-ribu orang menggantungkan nasibnya dan nafkah hidupnya, mestilah di bawah kekuasaan Pemerintah. Adalah bertentangan dengan keadilan sosial, apabila buruk baiknya perusahaan itu serta nasib beribu-ribu orang yang bekerja di dalamnya diputuskan oleh beberapa orang partikulir saja, yang berpedoman pada keuntungan semata-mata. Pemerintah harus menjadi pengawas dan pengatur, dengan berpedoman pada keselamatan rakyat. Bangunan Koperasi dengan diawasi dan juga disertai dengan kapital oleh Pemerintah adalah bangunan yang sebaik-baiknya bagi perusahaan besar-besar." Di bagian lain juga jelas, bahwa hal lain yang penting adalah ideologi perekonomian yang hanya dapat diselenggarakan berangsur-angsur dengan didikan pengetahuan, organisasi, idealisme dan rohani kepada orang banyak. Para Bapak Bangsa sadar bahwa kinerja perekonomian tidak dapat bergantung pada massa atau rakyat yang tidak berpengetahuan, melainkan yang sadar akan hak dan tanggung jawab, memiliki kecakapan teknis. Menariknya lagi, para pendiri bangsa menyadari pentingnya mengintegrasikan idealisme (visi) dan rohani (moralitas) dalam ideologi perekonomian. Di sisi lain, sidang juga menyadari pentingnya keuangan negara diatur dan dikelola. Dasar politik keuangan adalah “mencocokkan pengeluaran (belanja) dengan pendapatan”. Kekurangan pendapatan diisi dengan pungutan pajak (baru), pinjaman dalam negeri, memperkuat simpanan, memperbesar produksi, dan mengeluarkan uang kertas baru.   (Sumber: Saafroedin Bahar, Nanni Hudawati, Ananda B Kusuma (eds.), Risalah Sidang Badan penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonaia (BPUPKI)-Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) 28 Mei 1945-22 Agustus 1945; terbitan Setneg 1995). Bung Hatta mengajukan tiga soal yang perlu dipecahkan sebagai pedoman, yakni (i) ideologi, tentang bagaimana mengadakan susunan ekonomi yang sesuai dengan cita-cita tolong menolong?, (ii) praktik, yaitu politik perekonomian yang praktis dan perlu dijalankan dengan segera di masa yang akan datang, dan (iii) koordinasi, untuk mengatur pembangunan perekonomian Indonesia supaya sejalan dengan gerak pembangunan dunia. Bung Hatta sendiri meyakini semakin pudarnya individualisme dan mengarah kepada kolektivisme yang terwujud dalam ‘kooperasi’. (Mohammad Hatta, Ekonomi Indonesia di Masa Datang (Djakarta: Kementerian Penerangan, 1946). Ide Danantara, Satgas Penataan Kawasan Hutan, Ekspor SDA Satu Pintu, Koperasi Desa Merah Putih - cukup dekat dengan gagasan para pendiri bangsa. Lalu apa tantangan dan permasalahannya? Mungkin ini yang perlu diskusi lebih lanjut. Problem kita di tataran ideologi, rumusan kebijakan, desain kelembagaan, administrasi dan tata kelola, atau kecakapan dan integritas aktor? Sebagai bahan refleksi, Dr. B. Herry-Priyono pernah bilang, terobosan model UU Cipta Kerja hanya akan berhasil di dua model negara: AS yang sudah matang dg kapitalisme-liberal atau China-Vietnam yang sentralistik dan efektif. Artinya ada problem kelembagaan yang mendasar. Prof Yuen Yuen Ang menambahkan, pengalaman reformasi China sering diabaikan mengenai ketiadaan demokrasi dan meritokrasi. Padahal di China meritokrasi ada di semua level. Proses politik dari bawah hingga sebelum puncak mengadopsi nilai demokrasi dan check and balance yang kuat. Di sini jelas faktor kapasitas individu (leader) sangat ditentukan oleh proses politik yang sehat, karena melahirkan sistem pendidikan yang baik. Tampaknya ada beberapa prasyarat yang perlu diidentifikasi dan disediakan, sebagai proses institusional, jika kita hendak mewujudkan visi para pendiri bangsa itu menjadi kebijakan konkret yang berdampak. Saatnya membangun diskursus. 🙏🏻😇
32
29
123
30,005