Tarif Trans Jakarta naik?
Bagi yang mau membenturkan Pak Pram dengan KDM dan Pak Andra Soni, please stop!
Hubungan mereka bertiga bagus. Juga antara DKI dengan Pusat. Koordinasi dan kolaborasi sejauh ini juga berjalan dengan baik. Jakarta, Jawa Barat, dan Banten sangat beririsan dan saling membutuhkan.
Bahkan untuk urusan transportasi, Pak Pramono Anung sebagai Gubernur Jakarta pernah bikin rakor di Balai Kota dengan Pusat dan Pemda aglomerasi, untuk merancang integrasi dan pengaturan transportasi dan lalu lintas di perbatasan. Sebagai info, otonomi daerah selain DKI itu lebih berat di Kabupaten/Kota. Maka DKI pun intens berkoordinasi dengan Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, Tangsel.
Penambahan rute baru Trans Jabodetabek juga inisiatif orisinil dan tulus Pak Pram untuk mendukung penggunaan transportasi publik, mengurangi beban jalan dan polusi Jakarta, selain menopang mobilitas warga non Jakarta.
Tahun lalu, saat direncanakan penyesuaian tarif Trans Jakarta, Pak Pram aktif berkomunikasi dengan Kemenkeu dan Kemenhub, selain mendengarkan masukan pakar dan publik. Pemotongan DBH yang cukup besar membuat DKI harus realistis tanpa perlu mengeluh. Semua berpikir bagaimana creative financing bisa dilakukan demi tetap bisa menopang kebutuhan warga.
Sebagai informasi, tarif Trans Jakarta saat ini bervariasi. Rp 2000,- untuk pukul 05.00-07.00 WIB, Rp 3.500,- untuk pukul 07.01-05.00 WIB. Lalu Mikrotrans tarifnya Rp 0,-. Untuk integrasi TransJakarta selama 3 jam Rp 5000,-, dan integrasi antarmoda (TJ, MRT, LRTJ) cukup bayar Rp 10.000,-. Untuk Trans Jabodetabek sendiri tarifnya Rp 3500,-, flat untuk semua rute.
Tanpa perlu diperdebatkan, kiranya publik perlu tahu beberapa informasi berikut sebagai gambaran. Subsidi DKI per pelanggan: Trans Jakarta Rp 10.000, untuk Trans Jabodetabek rute lama Rp 15.000, sd 17.000,-, dan untuk Trans Jabodetabek rute baru sekitar Rp 31.500, sd 33.500,-.
Selain itu, 15 golongan mendapat fasilitas gratis naik transportasi publik Jakarta. Penyandang disabilitas, lansia, pengurus rumah ibadah, hingga tenaga pendidik, keluarga miskin, dan pekerja.
Saat ini pun Pak Pram masih terus mengolah situasi dan menimbang yang terbaik. Maka antena ditinggikan dan radar diperlebar. Suara2 publik diserap melalui diskursus. Saat bersamaan, sekali lagi, komunikasi dengan Pusat dilakukan. Jakarta tak mungkin berjalan sendiri tanpa dukungan Pusat dan wilayah penyangga.
Di tengah makin sedikitnya pilihan, mari terus dukung kebijakan pro rakyat melalui sinergi dan kolaborasi yg baik. Terima kasih untuk aspirasi, masukan, kritik, dan kepedulian buat kebaikan warga Jakarta dan sekitarnya.
Vis unita fortior! Di saat dinamika ekonomi-politik global, kenaikan harga minyak dunia, dan tekanan fiskal domestik - bersatu akan membuat kita lebih kuat. 🙏🏻😇🔥