๐๐๐๐๐ ๐๐ถ๐ป๐ท๐ฎ๐น ๐๐ฒ๐บ๐ผ๐ธ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ
Hari ini saya mendapatkan kiriman video ini. Ketika Deddy Sitorus memprotes hasil pemilu kita. Masalah usang sebenarnya. Klise. Beberapa kita sudah bosan membahasnya. Tetapi memang inilah akar masalah kita.
Saya sering katakan, DEMOkrasi (daulat rakyat) sudah dibajak DUITokrasi (daulat uang).
Ada dua modus strategi menang pemilu sekarang: Politik Uang dan Politik Curang. Mau menang, serang dengan siraman "uang".
Petahana menyalahgunakan wewenang. Serang dengan amplop, uang saksi, sembako, bansos, dll. Intinya, satu kata: UANG!
Padahal:
๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ผ๐๐ผ๐ฟ ๐๐ถ๐ฑ๐ฎ๐ธ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ต๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฟ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐บ๐ฝ๐ถ๐ป ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ฏ๐ฒ๐ฟ๐๐ถ๐ต.
๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ฝ๐ฒ๐บ๐ถ๐น๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ธ๐ผ๐๐ผ๐ฟ ๐ต๐ฎ๐ป๐๐ฎ ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐น๐ฎ๐ต๐ถ๐ฟ ๐ฐ๐ฎ๐น๐ผ๐ป ๐ธ๐ผ๐ฟ๐๐ฝ๐๐ผ๐ฟ.
Seharusnya, dalam tubuh negara demokratis, pemilu berfungsi sebagai "Ginjal", yang mencuci darah kotor. Pemimpin yang tidak amanah, tidak kapabel, adalah darah kotor yang disingkirkan melalui saringan pemilu lima tahun sekali.
Tetapi ginjal pemilu kita sudah gagal. Yang tersaring dan kalah, malah politisi yang bersih. Yang mengandalkan kapasitas dan integritas tak terbeli, bukan isi tas.
Gagal ginjal pemilu menghadirkan pemenang pilpres dari putusan Paman Usman untuk Gibran; Anggota Legislatif nasional dan lokal yang merampok uang rakyat; Gubernur, Bupati, Walikota yang menghadirkan kebijakan koruptif.
Semua bermuara dari uang suap untuk memenangkan pemilu. Menjadi kandidat bayar mahar (๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ข๐ค๐บ ๐ฃ๐ถ๐บ๐ช๐ฏ๐จ). Menjadi pemenang membayar penyelenggara pemilu, oknum aparat, pengadilan, mahkamah, hingga membeli suara rakyat (๐ท๐ฐ๐ต๐ฆ ๐ฃ๐ถ๐บ๐ช๐ฏ๐จ).
Padahal, baik yang memberi suap ataupun yang menerima suap, masuk neraka, kata Rasulullah.
Jadi, kesimpulannya, suap adalah praktik yang menyebabkan "gagal ginjal pemilu" kita, dan dari waktu ke waktu semakin kita toleransi sebagai kenormalan. Kata Burhanuddin Muhtadi, politik uang adalah "new normal" dalam pemilu kita.
Tidak ada kabar baik dari pemilu yang kotor.
Tidak ada keadilan dari gagal ginjal pemilu.
Indonesia tidak akan pernah maju, melalui pemenang pemilu yang curang dan mengandalkan sokongan uang dari para oligarki koruptor.
Dirgahayu Indonesia!
Tapi, percayalah, dengan gagal ginjal pemilu, Indonesia tidak menuju negara maju, Indonesia menuju negara gagal!