Aku paham keresahan sejawat ini maksudnya karena awalnya gak sampai hati merawat pasien yang sudah AIDS dengan komplikasi yang macam-macam. I get that.
Tapi coba kita berhenti sejenak, kita berpikir secara ilmu medis. Secara patofisiologi proses transmisi HIV sampai AIDS waktunya gak singkat, gak sebulan 2 bulan terpapar terus langsung kondisinya parah, pasti ada tanda dan gejala lain yang timbul dan dihiraukan oleh si pasien sebelum ke tahap itu.
Dan kita semua tau, apabila HIV terdeteksi pada stadium awal dan pasien mendapatkan ARV rutin, tidak akan sampai jatuh ke kondisi AIDS.
Pertanyaannya adalah, kenapa pasien-pasien ini demikian? Artinya entah mereka tidak terdiagnosis di stadium awal atau berhenti minum ARV kan?
And deeper question is why? Ya karena mereka takut. Takut akan perlakuan yang tidak mengenakkan dari tempat mereka mencari pertolongan.
Pengalaman pribadi saya, justru teman-teman dengan faktor resiko ini, entah itu LSL, atau wanita or laki-laki pekerja seksual ketika mereka ada keluhan, mereka meminta tolong berkonsultasi dan mendatangi saya tidak dalam ruang praktik. Tapi di luar jam tugas dan tempat kerja saya.
Dan pertanyaan pertama mereka ketika saya menyarankan untuk periksa ke fasilitas kesehatan yang memadai, โkalo aku periksa bakalan aman kan? Privasiku aman kan?โ
So the fear is realโฆ Dan kira-kira kenapa sampai mereka setakut itu? Silakan jawab dalam hati nurani sendiri.
Jadi issue ini bukan perkara apakah seorang dokter just voicing out their opinion online dan tetap bersikap netral di ruang praktik.. No.. Itโs beyond than that, we are creating a psychological battle with our patients.
I think we should stop this issue, karena dengan demikian, saya khawatir justru kita malah akan lebih sering menerima pasien HIV stadium lanjut yang dikeluhkan ini daripada sebaliknya.
Kaum lu aja pada ngelepehin kalau ada sesama tukang tusbol kena HIV ๐