Jakarta – Konser band legendaris Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada 10–11 April 1993 menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah sekaligus kelam dalam dunia musik Indonesia. Ribuan penggemar memadati stadion, sebagian tanpa tiket, hingga berujung pada kerusuhan besar di luar arena konser.
Dilansir dari Kompas (11–12 April 1993), kerusuhan bermula saat ribuan orang tanpa tiket memaksa masuk menjelang konser dimulai. Sekitar pukul 17.00 WIB, massa mulai melempari aparat dengan batu, merobohkan pagar, dan membakar kendaraan di sekitar stadion. Menurut laporan UPI Archives (12 April 1993), lebih dari 50 orang terluka dan puluhan kendaraan rusak.
Harga tiket konser saat itu berkisar Rp30.000–Rp150.000, sedangkan upah minimum Jakarta hanya sekitar Rp150.000 per bulan. Sebagai perbandingan, harga emas 24 karat pada 1993 sekitar Rp24.900 per gram Faktor ekonomi ini membuat banyak remaja tak mampu membeli tiket, namun tetap datang karena antusiasme tinggi terhadap Metallica yang baru pertama kali tampil di Indonesia.
Band pembuka Rotor membuka konser dengan sukses, sebelum Metallica tampil membawakan lagu-lagu seperti Enter Sandman dan Master of Puppets. Meskipun kericuhan terjadi di luar stadion, suasana di dalam tetap tertib dan penuh energi. “It was one of the wildest crowds we’ve ever seen,” ujar vokalis James Hetfield, dikutip dari wawancara Metallica tahun 2013 (Rolling Stone Indonesia).
Kerusuhan tersebut membuat pemerintah Orde Baru memperketat izin konser internasional hampir selama satu dekade. Menurut
Medcom.id dan
Liputan6.com, konser Metallica 1993 menjadi pelajaran penting dalam manajemen keamanan dan tata kelola acara musik besar di Indonesia.
Tiga dekade berlalu, Lebak Bulus 1993 tetap dikenang sebagai simbol antara cinta, euforia, dan ketidaksiapan sosial terhadap budaya global yang baru masuk.