Saya habis baca ulang salah satu manhwa di webtoon. Ada hal yang bikin saya berkaca, dalam arti... Bukan hanya sekadar cerita yang sedih... Tapi, serpihan cerita ini bikin saya termenung dalam banyak hal.
[Kalau ada yang bisa nebak ini dari Manhwa apa, berarti dia fans manhwa ini]
Jadi, ceritanya ada anak kelas 3 SD, sebut saja namanya Park Somi. Dia dikucilkan gara-gara selalu melakukan diskriminasi kepada teman-teman kelasnya.
Wali kelas Park Somi adalah wali kelas yang menjunjung kesetaraan gender. Dia mengajarkan arti bagaimana kesetaraan gender itu sendiri pada ruangan kelasnya.
Suatu hari, karena Wali Kelas Park Somi melakukan pengajaran yang "luar biasa", itu didengar oleh Menteri Pendidikan. Mereka mengirim utusan untuk menjadi pengawas dalam beberapa hari pada ruangan Wali Kelas Park Somi. Sebut saja Bu Yang Sanghee.
Bu Sanghee mengajar arti bagaimana kesetaraan gender didepan para pengawas tersebut. Pengawas tersebut awalnya tak ada yang merasa aneh, mirip dengan diskusi pada umumnya...
Sampai pada hari berikutnya, ada diskusi bagaimana penanda toilet (π») diberikan.
Park Somi bilang penanda ini :
πΉ = Laki-laki
πΊ = Perempuan (warna π΄ btw)
Murid lainnya merasa tak setuju, karena warna merah dan biru adalah stereotipe, dan begitu juga rok/celana
Murid tersebut bilang, "seharusnya dengan membedakan tulisan aja udah cukup, hanya orang bodoh yang gak bisa baca itu"
Park Somi tak bisa membantahnya, tapi menurut kacamata dari para pengawas, pendapat itu ditentang secara berlebihan.
Tak sampai disitu, topiknya juga ada beberapa... Hingga menyebabkan konflik yang semakin memanas antar kelas tersebut.
Park Somi mulai merasakan ketidaknyamanannya, "bentar, bu guru. Tapi, saya merasa opini saya dan beberapa teman saya lainnya ini selalu ditentang secara berlebihan. Saya gak merasa jawaban saya paling benar, tapi opini saya cuma berasa diolok-olok."
Murid perempuan lain bernama Nayeong, yang menjadi salah satu yang selalu kontra terhadap Park Somi, dia mulai marah dengan mengatakan "apa yang berlebihan, kau sendiri lebih suka melakukan diskriminasi", setelahnya dia mulai melakukan kontak fisik(mendorong) tubuh Park Somi.
Sungguh... Setelah kejadian itu, kelasnya menjadi berantakan.... Berantakan parah. Mereka jadi adu mulut, para pengawas itu jadi kaget karena "pengajaran" luar biasa itu ternyata di luar ekspetasi mereka.
Para pengawas itu adalah Badan Hak Pendidikan, mereka adalah bawahan menteri pendidikan langsung...
Mereka memaksa untuk mencegah sebelum terjadinya konflik yang lebih buruk. Salah satu pengawas tersebut membelah papan kayu dengan kencang dan membelahnya menjadi 2.
"Bu Sanhee... " ucap seorang pengawas tersebut... "Pendidikan kamu sudah membuat kelas ini menjadi 2"
π©π»βπΌ : Bu Guru Yang Sanhee
π¨ββοΈ : Pengawas BHP 1
π©ββοΈ : Pengawas BHP 2
π©π»βπΌ: "Padahal ini semua gara-gara kalian! "
π¨ββοΈ : "Kami hanya datang mengawasi, apakah saya selalu mengatakan tidak setuju???"
π©ββοΈ: "Saya juga lebih banyak mengawasi, tapi semua pendidikan ini berlebihan...."
π©π»βπΌ : "Padahal metode pengajaran kami... "
π©ββοΈ : "Kami? "
π©π»βπΌ : "(*pura2 batuk) maksudnya adalah... "
π¨ββοΈ : "Tidak bukan masalah itu, poin kesetaraan gendernya jelas valid, tapi saya nggak setuju dengan cara membentaknya, cobalah suruh Park Somi yang menjelaskan... "
Park Somi mengangguk, kemudian menjelaskan 7 poin utama.
Dasar : Semua laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sama. sehingga berbicara dan berperilaku sopan wajib bagi siapapun.
Poin 1 : Jangan menganggap orang tersebut kuat karena laki-laki ataupun menganggap orang itu lemah karena perempuan
Poin 2: Jangan mengejek kesukaan baju laki-laki ataupun perempuan
Poin 3 : Berpihaklah pada yang benar, bukan berdasarkan gender.
Poin 4 : Jangan membedakan cita-cita berdasarkan gender
Poin 5 : Hormati semua hobi laki-lakj ataupun perempuan
Poin 6 : Bedakan diskriminasi dengan perbedaan gender
Poin 7 : Jangan berteriak atau marah-marah saat terdapat perbedaan pendapat.