Guys, ada obrolan antara Ahok dan Mahfud MD yang gue pikir jarang banget kedengarannya dari pejabat atau mantan pejabat Indonesia.
Dan yang bikin gue diem bukan karena dramatis. Tapi karena jujurnya.
Ahok bilang satu hal soal Mahfud yang langsung gue catat.
Pak Mahfud ini walaupun orangnya keras
kalau kita kasih data yang masuk akal, dia terima kok.
Dan di kalimat berikutnya dia langsung kasih kontrasnya
Paling repot sama orang berkuasa yang udah salah tapi ngeyel.
Lu ngomongin dia enggak mau dengar.
Lu mau apa?
Dua kalimat.
Tapi nggak perlu dijelasin panjang-panjang siapa yang dia maksud.
Dan dari situ obrolan mereka masuk ke satu pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa hukum di Indonesia tidak pernah benar-benar jalan?
Mahfud jawab dengan satu angka yang gue rasa banyak orang belum tahu.
Kekayaan alam yang selama ini kita bangga-banggain itu cuma 23% dari aset kemajuan suatu bangsa.
Yang 44%? Hukum.
Anda sekaya apapun kalau hukumnya tidak jalan Anda akan ambruk.
Negara di mana pun hanya begitu.
Dan kalau lo lihat negara-negara yang maju
New Zealand, Taiwan, negara-negara Nordik
bukan karena mereka lebih kaya sumber daya.
Tapi karena indeks korupsi mereka bagus dan hukumnya ditegakkan serius.
Lalu Ahok cerita soal enaknya jadi pejabat dan ini yang bikin gue pikir.
Bukan enaknya dalam artian korup.
Tapi enaknya dalam artian bisa beneran bantu orang.
Dia cerita waktu jadi Gubernur DKI.
Ada laporan orang sakit diangkut pakai gerobak.
Dia forward ke grup kesehatan. Langsung ditangani.
Ada yang meninggal dia suruh antar jenazahnya pulang ke Jawa gratis pakai ambulans provinsi.
Ada orang lapor ijazah ditahan karena utang Rp3 juta dia bayarin dari kantong sendiri.
Bahkan waktu di tahanan pun orang masih lapor ke dia. Janda yang kerja ojek, motornya rusak, nggak bisa bayar kos. Dia masih coba bantu.
Paling repot sekarang orang minta bantuan tapi saya udah nggak punya dana taktis.
Dan ini yang paling gue inget dari seluruh obrolannya.
Ahok bilang waktu jadi pejabat, dia pernah dapat untung bisnis 140.000 dolar dalam sebulan.
Tapi senangnya kalah sama waktu dia bisa bantu orang.
Ada nenek-nenek bilang ke gue lu miskin, lu jadi pejabat, enggak mau korupsi, gaji kecil. Gue bilang gue pasti lebih kaya.
Karena gue bantu orang miskin tanpa pakai duit gue sendiri.
Dan gue ke mana-mana dibayarin negara.
Soal Danantara Ahok dan Mahfud juga kasih pandangan yang tidak banyak disuarakan.
Ahok bilang dari awal dia udah usul ke Jokowi: bubarkan Kementerian BUMN.
Buat dia negara nggak perlu BUMN.
Yang perlu adalah sistem royalti yang benar.
Contohnya Freeport.
Dia nggak setuju beli saham 51% karena artinya Indonesia ikut nanggung kerusakan lingkungan puluhan tahun yang sudah terjadi sebelumnya.
Mending duduk anteng, dapat royalti, dan biarkan yang ngerjain yang memang ahlinya.
Dan soal Danantara dia bilang nggak perlu debat panjang. Faktanya sudah bicara sendiri.
Kalau Danantara berhasil kenapa rating kita turun?"
Dan yang paling gue appreciate dari obrolan ini:
Dua orang ini Ahok dan Mahfud sama-sama datang dari latar belakang yang nggak mewah.
Sama-sama besar di lingkungan yang bikin mereka ngerti rasanya jadi orang yang enggak punya pilihan.
Dan keduanya sepakat soal satu hal kalau lu punya kekuasaan, gunakan untuk yang benar.
Kalau nggak punya kekuasaan berteriak.
Kalau nggak bisa berteriak lagi berdoa.
Itu selemah-lemahnya iman.