Biasanya ada penjara juga.
Di kota Blora atau Rembang ya, penjara di Alun-Alun.
Ternyata Alun-alun, masjid besar, kantor bupati, dan pasar memang ditempatkan selalu berdekatan di hampir semua kota tua di Jawa.
Pola ini sudah ada jauh lebih tua dari Islam. Di era Majapahit dan Mataram Kuno, pusat kerajaan selalu punya 3 elemen: lapangan terbuka, tempat pemujaan, dan pusat dagang.
Saat Islam masuk abad 15-17, fungsi sakralnya pindah ke masjid, namun tata letaknya dipertahankan. Makanya Masjid Agung Demak, Yogyakarta, Cirebon, semua menghadap alun-alun.
Tiga bangunan ini sebenarnya representasi 3 sumber legitimasi kekuasaan: masjid (spiritual), pendopo/kabupaten (politik), pasar (ekonomi). Ketiganya ngumpul di alun-alun karena kekuasaan yang sah HARUS BISA DILIHAT- secara harfiah, dari tengah lapangan.
Bahkan penempatan bangunan tidak asal, masjid di barat (arah kiblat & matahari terbenam), pendopo di utara (arah keagungan), pasar di timur/selatan (arah kehidupan & aktivitas harian). Dan dua pohon beringin kembar di tengah alun-alun itu bukan dekorasi β simbol penghubung dunia atas-bawah, puser bumi.
Bojonegoro, Lamongan, Madiun, Tuban sampai sekarang pola ini masih kebaca, walau fungsi pemerintahan udah pindah ke gedung modern dan pasar udah jadi ruko.
Di kotamu apakah masih mempertahankan susunan kota seperti ini?