Di tahun-tahun kelam 1997-1998 saat Budiman dan kawan-kawan PRD diburu, sosok yang menjabat sebagai Danjen Kopassus adalah Prabowo.
Pasukan di bawahnya (Tim Mawar) terbukti secara sah melakukan penculikan terhadap aktivis pro-demokrasi.
Wiji Thukul yang elu sebut hilang tanpa jejak, dan belasan kawan Budiman lainnya, adalah target operasi militer rezim saat itu.
Kawan-kawan seperjuangan nya diculik (dan beberapa tak pernah kembali) oleh institusi militer di bawah komando seorang jenderal.
Tapi lihat saat ini, dia sekarang duduk manis di kabinet, memanggil mantan komandan militer tersebut dengan sebutan Bapak Presiden, dan bekerja untuk menyukseskan programnya.
Tapi gak heran sih bagi sang aktivis, memegang Badan Pengentasan Kemiskinan dengan kewenangan anggaran triliunan adalah cara paling konkret untuk mengeksekusi janji masa mudanya menyejahterakan kaum bawah.
Daripada cuma teriak pakai Toa di depan istana. Tapi kan publik gak melihat ini sebagai solusi cerdas dengan melihat gelagat nya Budiman.
Publik melihat ini murni sebagai kematian idealisme bagi siapapun yang dapet kursi jabatan, bukti bahwa kekuasaan adalah obat penenang paling ampuh.
Nyesek lihatnya, nggak ada jembatan, siswa siswa tetep berenang arungi sungai
Ini yang di maksud Fatimah BEM UI, sebelum mengadakan MBG, perhatikan hal hal dasar pendidikan kayak gini