Twit di bawah ini, berikut chart BTC merupakan gambaran bahwa pasar keuangan merupakan sistem kompleks (complex system). Yaitu jaringan dari banyak komponen yang saling berinteraksi, dalam hal ini disebut agen/pelaku, yang secara kolektif menghasilkan perilaku, pola dan sifat-sifat yang muncul yang tidak ditemukan pada bagian individual mana pun.
Sistem kompleks berciri nonlinieritas, self-organization serta adaptasi terhadap lingkungannya sehingga membuatnya sulit untuk dimodel dan diprediksi.
Karena itu kemampuan seseorang atau lembaga dalam melakukan aktivitas yang terkait pasar keuangan, seperti trading atau pengelolaan dana lainnya tidak dapat semerta-merta dikaitkan dengan skill atau kepintaran seseorang. Menurut Mauboussin, investasi berada di spektrum kanan kegiatan, di mana hasilnya secara signifikan dikontribusikan oleh keberuntungan/luck.
Tapi tentu saja tidak banyak orang yang bersedia mengakui hal tersebut. Seperti berulang kali dikatakan oleh Morgan Housel: "Luck plays such a big role in the world. But it’s hard to talk about. If I say you got lucky, I look jealous. If I tell myself that I got lucky, I feel diminished."
Namun fakta itu tidak membuat beberapa orang kemudian menahan diri untuk tidak membuat prediksi atau ramalan mengenai pasar keuangan. Motivasinya bermacam-macam. Dari sekedar omon-omon kosong di media sosial untuk engagement farming, jualan kelas atau skill, hingga motivasi menggiring para plankton untuk menjadi santapan para paus.
Itulah kenapa ada banyak influencer yang senang menciptakan visual kekayaan dengan flexing harta agar tercipta keterkaitan antara hasil dan skill. Intinya, karena gua kaya maka gua skillful/pintar. Dan itu dapat menciptakan kredibilitas semu yang dapat dipertontonkan kepada khalayak audiens di media sosial mereka yang mayoritas tidak kritis dan hanya mengangguk-angguk mengiyakan dan (mungkin) sambil bermimpi memiliki McLaren.
Itulah juga kenapa mereka sering mengecilkan pentingnya edukasi (sekolah itu scam), berpikir kritis (ada skenario elit global), hingga menurunkan kredibilitas para kritikus mereka dengan merendahkan sertifikasi profesional dan mendorong argumen fallacious seperti "Kalau lo pintar, kenapa lo gak kaya." untuk menyerang mereka yang menyampaikan pernyataan yang dapat menurunkan kredibilitas mereka sebagai influencer.
Mereka-mereka ini menurut saya merupakan enablers dari masalah praktik goreng-menggoreng dan berbagai akibat finansialnya bagi banyak investor retails. Mudah-mudahan segera ada tindakan yang tepat agar membuat kelompok semacam ini jera.