Tiga pejabat datang ke kampus, tiga latar belakang berbeda, tapi publik punya alasan berbeda untuk mengkritik mereka.
Budiman Sudjatmiko dulu dipenjara karena melawan kekuasaan. Hari ini ia berada di dalam kekuasaan. Pertanyaannya bukan lagi "apakah Budiman berubah?", melainkan: sejauh mana idealisme bisa bertahan setelah mendapat akses ke ruang VIP negara? 🔥
Nusron Wahid lebih sederhana. Ia selalu tampak nyaman di dekat pusat gravitasi kekuasaan. Publik sampai bingung, yang sedang dibela itu prinsip atau posisi? 😋
Sudaryono menghadapi ujian yang berbeda. Di negeri yang penuh politik patronase, rakyat cuma ingin tahu satu hal: jabatan itu hasil kapasitas atau bonus kedekatan? 🗿
Yang menarik, ketiganya datang dengan cerita berbeda, tapi berakhir pada tujuan yang sama: 'PENJILAT PENGUASA'.
Padahal sejarah mengajarkan, tugas intelektual bukan menjadi PENJILAT.
Tugas intelektual adalah mengingatkan negara bahwa PENGUASA bisa salah.
Karena ketika mantan aktivis, politisi, dan kader partai akhirnya terdengar sama persis saat bicara di depan mahasiswa, mungkin yang berubah bukan mahasiswanya.
Mungkin kursi kekuasaan memang punya kemampuan ajaib:
mengubah kritik menjadi klarifikasi,
mengubah idealisme menjadi narasi,
dan mengubah PENJILAT menjadi NEGARAWAN.. ☕📊